Zikir Mengubah Takdir
Kita
berasal dari the “Unseen world” sebagaimana dikisahkan di atas. Al
Quran memulai wacana iman (belief) dengan anjuran untuk beriman terhadap
yang ghaib (the Unseen World). Memperkuat iman hanya bisa dilakukan
melalui zikir. Zikir yang paling efektif adalah zikir yang dilakukan di
tingkat Singularitas (fana), karena zikir setingkat ini memiliki
kekuatan penuh untuk mereplikasi sifat-sifat Tuhan (asma’ul husna)
terhadap diri lokal kita. Zikir pada tingkat ini menghasilkan self-empowerment yang berdampak multidimensional. Pada kehidupan sehari-hari, kita akan merasakan manfaat self-empowerment tersebut sebagaimana kutipan berikut:
“Your
belief act like filters on camera, changing how you see the world. And
your biology adapts to those beliefs. When we truly recognize that our
beliefs are that powerful, we hold the key to freedom. While we cannot
readily change the codes of our genetic blueprints, we can change our
minds.” (Bruce H. Lipton, the Biology of Belief, 2005, p.143)
Zikir dan Identitas Diri
Katakanlah : “Kepunyaan siapakah apa yg ada di langit dan di bumi?” Katakanlah: “Kepunyaan Allah”. (Al An’am:12)
“Dan barangsiapa yang menyerahkan wajahnya kepada Allah (zikir yang mencapai steady state / Singularitas),
sedang dia orang yg berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah
berpegang kepada urwah (buhul tali) yang kokoh. Dan hanya kepada
Allahlah kesudahan segala urusan” (Luqman:22)
Urwah berakar kata yang sama dengan riwayat.
Ayat Luqman:22 mengisyaratkan bahwa identitas atau riwayat kita akan
semakin kuat jika kita menjadi orang yang ‘God oriented’ (karena
menyerahkan wajah kepada Allah), dan berada di dalam Allah. Tak ada sesuatu selain Allah. Segala sesuatu mewujud atas izin Allah.
Zikir Memfasilitasi Kepemimpinan
Manusia adalah khalifatullah. Kehadiran Allah di dunia dan dalam diri manusia itu harus diketahui dan dikenali. “Kuntu Kanzan Makhfiyya... Aku adalah Khasanah Tersembunyi, dan aku ingin dikenali.” Karena itu:
1. Sebagai wakil Allah, manusia harus bertindak sebagaimana Allah bertindak.
2. Manusia harus mengadopsi kualitas-kualitas ilahi dan mengaktualisasikannya.
3. Manusia
wajib menjaga keseimbangan. Karena hanya manusia yang memiliki kualitas
sentralitas, totalitas, dan kekhalifahan, sehingga citra Allah bisa
direfleksikan secara penuh. Pada Allah, segenap sifat Allah itu
merupakan kesatuan yang tak terbedakan. Pada kosmos, sifat-sifat Allah
hadir dalam kemajemukan yang terpisah-pisah. Hanya pada manusia kualitas
Allah tersebut hadir dalam dua cara, sehingga manusia menjadi realitas
perantara yang penting. (Manusia pulalah yang berpotensi merusak
keseimbangan antara Allah dan kosmos)
Segenap
kualitas-kualitas ilahiah yang penting dalam mengemban tugas
kepemimpinan tersebut hanya bisa diadopsi dan diseimbangkan melalui
zikir.
Zikir Itu Mencerdaskan
“Bacalah
dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan, Dia telah menciptakan
insan dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah,
yang mengajar (insan) dengan perantaraan kalam”. (Al Alaq)
Ayat
ini mengajak manusia untuk berpikir secara terintegrasi, dan itu hanya
bisa dilakukan dengan menyebut nama Allah. Membaca itu mengkomposisi
ulang realita lalu memaknainya (Quraish Shihab), berkontemplasi dan
mengiterasi (Yusuf Ali). Manusia diciptakan dari segumpal darah yang
rendah, tapi Rabb menyebut manusia dalam istilah ‘insan’, mahluk
pembelajar, bukan basyar (mahluk biologis) atau nas (mahluk yang
mengikuti dorongan psikologis). Iqra’ dalam konteks ini adalah ajakan
berkontemplasi.
“Allah
itu cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah seperti sebuah
lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu
ada di dalam kaca, dan kaca itu seakan-akan bintang yang berkilau
seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak
berkahnya, yaitu pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur ataupun
barat, yang minyaknya saja hampir-hampir menerangi walaupun tidak
disentuh api. Cahaya di atas cahaya. Allah membimbing kepada cahayaNya
siapa yang Dia kehendaki. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi
manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (An Nur: 35)
(Kaca
itu tak bercahaya, tapi mampu menjadi medium dan memancarkan cahaya
Allah bagaikan bintang. Pelita melambangkan Allah, kaca melukiskan
manusia yang berada dalam kapasitas penuh, dan minyak zaitun
menyimbolkan hati manusia yang beriman.)
Cahaya di atas cahaya.
Realitas itu multidimensi, semakin tinggi (atau dalam) sebuah dimensi,
semakin banyak kandungan informasinya. Pada puncaknya, realitas
tertinggi (atau terdalam) adalah realitas yang padat informasi, realitas
yang memuat segala sesuatu. Di sinilah kecerdasan kosmik relevan,
karena kecerdasan kosmik berhubungan dengan realitas multidimensi.
Allah membimbing kepada cahayaNya siapa yang Dia kehendaki.
Artinya, Allahlah yang mengantarkan kita pada kapasitas kita yang
tertinggi, Allahlah yang membukakan pintu pengetahuan yang tak terbatas.
“Aku mengabulkan permohonan
orang yang berdoa ketika ia memanggilKu. Maka hendaklah mereka itu
memenuhi segala perintahKu dan beriman kepadaKu, agar mereka berada di
dalam kebenaran/pengetahuan/kecendekiaan (rusydi)” (Al Baqarah:186)
Alam bersifat holografis, demikian pula otak manusia. Otak holografis memiliki kapasitas yang luar biasa. Jika hologram
bisa menyimpan informasi sebesar 10 milyar bit dalam satu sentimeter
kubik, secara rata-rata, otak manusia berkapasitas seluas alam semesta,
karena sepanjang hidupnya, otak manusia bisa menyimpan informasi
sebanyak ± 2,8x1020 bit.
Ayat An Nur:35 di atas juga menyiratkan sebuah cara kerja holografis baik pada alam maupun pada otak manusia.
Model Kesadaran Holografik Keith Floyd:
Dalam pendekatan neurofisiologi, otak kini diyakini sebagai sistem optik yang memproses bio-pancaran cahaya (bioluminescence).
Otak merupakan “layar kesadaran”, bagaikan lempeng holografik organik
yang memproses rekonstruksi berbagai persepsi dan gambar tiga dimensi. Paduan
antara kelenjar bawah otak, thalamus, hypothalamus, dan organ kecil
pada tulang belakang merupakan teater kesadaran. Organ kecil pada tulang
belakang tersebut tersusun oleh jaringan yang peka terhadap rangsang
cahaya. Organ kecil tersebut menempati titik tengah di pusat medan
energi neural, lokasi terjadinya pendaran cahaya yang dianggap sebagai
layar kesadaran.
Tetapi
agar otak kita bekerja secara holografis, kita harus mengakses
Singularitas (tauhid, tahap fana), mencapai kecerdasan kosmik. Pertanyaannya, bagaimana cara mencapai Singularitas?
“Ber-muraqabahlah
kamu dengan Tuhanmu yang Maha Perkasa dan Maha Tinggi, ketika kamu
sendiri maupun berada di tengah keramaian. Dan jadikan pandangan matamu
seakan-akan melihatNya. Apabila kamu tidak melihatNya, Dia-lah yang
melihatmu.” (K.H.A. Shohibulwafa Tadjul ‘Arifin, Miftahus Shuduur, 1970)
Zikir dan Kinerja
Zikir
di tingkat Singularitas akan meningkatkan kualitas perilaku, di
antaranya: produktivitas, efektivitas, dan efisiensi. Perilaku-perilaku
tersebut merupakan prinsip-prinsip utama dalam konteks manajemen. Zikir
menginspirasi orang untuk menghargai waktu dan melakukan apapun
sebaik-baiknya, sehingga ia akan selalu menerapkan prinsip efisiensi dan
efektivitas.
“Dan
kami tinggikan zikirmu. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada
kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka
apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan
sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah
hendaknya kamu berharap.” (Al Insyirah)
“Hendaklah
setiap diri memperhatikan apa yang dilakukannya untuk hari esok, dan
bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang
kamu kerjakan.” (Al Hasyr:18)
Takwa artinya beware dalam konteks implementasi, dengan memperhatikan konsistensi dan quality assurance, sehingga layak untuk diaudit oleh Allah.
“Dan
carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan)
negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari
(kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana
Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan
di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang
berbuat kerusakan”. (Al Qashash:77)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar