Jumat, 10 Februari 2012

Sebuah Jawaban


Untuk my hun, ini jawaban atas pertanyaanmu..:)

Puluhan atau bahkan ratusan hari telah kita lewati
Menit-menit telah kita pijaki
Detik-detik bagaikan sapuan angin lalu..
"Apa kamu percaya aku?"
Masihkah kudapat katakan aku tidak percaya?
Bahumu begitu kokoh menopangku,
Saat aku merasa hanyalah sebutir debu..

Hujan angin telah kita lalui
Kemarau panjang telah kita telusuri
Terang dan gelap terus menemani.
."Apa kamu percaya aku?"
Masihkah kudapat katakan aku tidak percaya?
Ingat akan fajar dan senja?
Sebuah kotak tempat meletakkan mimpi kita?

Ya, aku percaya..
Meski terkadang ketakutan itu datangK
ucoba mengusirnya pergi
Ya, aku percaya..
Selalu kupanjatkan doa untuk yang terbaik
Semoga kita dapat mewujudkan mimpi kita
Di sini, bersama
Menatap fajar dan senja
Tersenyum ke arah kita..
Kuharap kau pun percaya..

Zikir Itu Mengubah Takdir

Zikir Mengubah Takdir
Kita berasal dari the “Unseen world” sebagaimana dikisahkan di atas. Al Quran memulai wacana iman (belief) dengan anjuran untuk beriman terhadap yang ghaib (the Unseen World). Memperkuat iman hanya bisa dilakukan melalui zikir. Zikir yang paling efektif adalah zikir yang dilakukan di tingkat Singularitas (fana), karena zikir setingkat ini memiliki kekuatan penuh untuk mereplikasi sifat-sifat Tuhan (asma’ul husna) terhadap diri lokal kita. Zikir pada tingkat ini menghasilkan self-empowerment yang berdampak multidimensional. Pada kehidupan sehari-hari, kita akan merasakan manfaat self-empowerment tersebut sebagaimana kutipan berikut:
“Your belief act like filters on camera, changing how you see the world. And your biology adapts to those beliefs. When we truly recognize that our beliefs are that powerful, we hold the key to freedom. While we cannot readily change the codes of our genetic blueprints, we can change our minds.” (Bruce H. Lipton, the Biology of Belief, 2005, p.143)
Zikir dan Identitas Diri
Katakanlah : “Kepunyaan siapakah apa yg ada di langit dan di bumi?” Katakanlah: “Kepunyaan Allah”. (Al An’am:12)
“Dan barangsiapa yang menyerahkan wajahnya kepada Allah (zikir yang mencapai steady state / Singularitas), sedang dia orang yg berbuat kebaikan, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada urwah (buhul tali) yang kokoh. Dan hanya kepada Allahlah kesudahan segala urusan” (Luqman:22)
Urwah berakar kata yang sama dengan riwayat. Ayat Luqman:22 mengisyaratkan bahwa identitas atau riwayat kita akan semakin kuat jika kita menjadi orang yang ‘God oriented’ (karena menyerahkan wajah kepada Allah), dan berada di dalam Allah. Tak ada sesuatu selain Allah. Segala sesuatu mewujud atas izin Allah.
Zikir Memfasilitasi Kepemimpinan
Manusia adalah khalifatullah. Kehadiran Allah di dunia dan dalam diri manusia itu harus diketahui dan dikenali. “Kuntu Kanzan Makhfiyya... Aku adalah Khasanah Tersembunyi, dan aku ingin dikenali.” Karena itu:
1. Sebagai wakil Allah, manusia harus bertindak sebagaimana Allah bertindak.
2. Manusia harus mengadopsi kualitas-kualitas ilahi dan mengaktualisasikannya.
3. Manusia wajib menjaga keseimbangan. Karena hanya manusia yang memiliki kualitas sentralitas, totalitas, dan kekhalifahan, sehingga citra Allah bisa direfleksikan secara penuh. Pada Allah, segenap sifat Allah itu merupakan kesatuan yang tak terbedakan. Pada kosmos, sifat-sifat Allah hadir dalam kemajemukan yang terpisah-pisah. Hanya pada manusia kualitas Allah tersebut hadir dalam dua cara, sehingga manusia menjadi realitas perantara yang penting. (Manusia pulalah yang berpotensi merusak keseimbangan antara Allah dan kosmos)
Segenap kualitas-kualitas ilahiah yang penting dalam mengemban tugas kepemimpinan tersebut hanya bisa diadopsi dan diseimbangkan melalui zikir.
Zikir Itu Mencerdaskan
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan, Dia telah menciptakan insan dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, yang mengajar (insan) dengan perantaraan kalam”. (Al Alaq)
Ayat ini mengajak manusia untuk berpikir secara terintegrasi, dan itu hanya bisa dilakukan dengan menyebut nama Allah. Membaca itu mengkomposisi ulang realita lalu memaknainya (Quraish Shihab), berkontemplasi dan mengiterasi (Yusuf Ali). Manusia diciptakan dari segumpal darah yang rendah, tapi Rabb menyebut manusia dalam istilah ‘insan’, mahluk pembelajar, bukan basyar (mahluk biologis) atau nas (mahluk yang mengikuti dorongan psikologis). Iqra’ dalam konteks ini adalah ajakan berkontemplasi.
Allah itu cahaya langit dan bumi. Perumpamaan cahaya Allah seperti sebuah lubang yang tak tembus, yang di dalamnya ada pelita besar. Pelita itu ada di dalam kaca, dan kaca itu seakan-akan bintang yang berkilau seperti mutiara, yang dinyalakan dengan minyak dari pohon yang banyak berkahnya, yaitu pohon zaitun yang tumbuh tidak di sebelah timur ataupun barat, yang minyaknya saja hampir-hampir menerangi walaupun tidak disentuh api. Cahaya di atas cahaya. Allah membimbing kepada cahayaNya siapa yang Dia kehendaki. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan bagi manusia, dan Allah Maha Mengetahui segala sesuatu” (An Nur: 35)
(Kaca itu tak bercahaya, tapi mampu menjadi medium dan memancarkan cahaya Allah bagaikan bintang. Pelita melambangkan Allah, kaca melukiskan manusia yang berada dalam kapasitas penuh, dan minyak zaitun menyimbolkan hati manusia yang beriman.)
Cahaya di atas cahaya. Realitas itu multidimensi, semakin tinggi (atau dalam) sebuah dimensi, semakin banyak kandungan informasinya. Pada puncaknya, realitas tertinggi (atau terdalam) adalah realitas yang padat informasi, realitas yang memuat segala sesuatu. Di sinilah kecerdasan kosmik relevan, karena kecerdasan kosmik berhubungan dengan realitas multidimensi.
Allah membimbing kepada cahayaNya siapa yang Dia kehendaki. Artinya, Allahlah yang mengantarkan kita pada kapasitas kita yang tertinggi, Allahlah yang membukakan pintu pengetahuan yang tak terbatas. “Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa ketika ia memanggilKu. Maka hendaklah mereka itu memenuhi segala perintahKu dan beriman kepadaKu, agar mereka berada di dalam kebenaran/pengetahuan/kecendekiaan (rusydi)” (Al Baqarah:186)
Alam bersifat holografis, demikian pula otak manusia. Otak holografis memiliki kapasitas yang luar biasa. Jika hologram bisa menyimpan informasi sebesar 10 milyar bit dalam satu sentimeter kubik, secara rata-rata, otak manusia berkapasitas seluas alam semesta, karena sepanjang hidupnya, otak manusia bisa menyimpan informasi sebanyak ± 2,8x1020 bit.
Ayat An Nur:35 di atas juga menyiratkan sebuah cara kerja holografis baik pada alam maupun pada otak manusia.
Model Kesadaran Holografik Keith Floyd:
Dalam pendekatan neurofisiologi, otak kini diyakini sebagai sistem optik yang memproses bio-pancaran cahaya (bioluminescence). Otak merupakan “layar kesadaran”, bagaikan lempeng holografik organik yang memproses rekonstruksi berbagai persepsi dan gambar tiga dimensi. Paduan antara kelenjar bawah otak, thalamus, hypothalamus, dan organ kecil pada tulang belakang merupakan teater kesadaran. Organ kecil pada tulang belakang tersebut tersusun oleh jaringan yang peka terhadap rangsang cahaya. Organ kecil tersebut menempati titik tengah di pusat medan energi neural, lokasi terjadinya pendaran cahaya yang dianggap sebagai layar kesadaran.
Tetapi agar otak kita bekerja secara holografis, kita harus mengakses Singularitas (tauhid, tahap fana), mencapai kecerdasan kosmik. Pertanyaannya, bagaimana cara mencapai Singularitas?
Ber-muraqabahlah kamu dengan Tuhanmu yang Maha Perkasa dan Maha Tinggi, ketika kamu sendiri maupun berada di tengah keramaian. Dan jadikan pandangan matamu seakan-akan melihatNya. Apabila kamu tidak melihatNya, Dia-lah yang melihatmu.” (K.H.A. Shohibulwafa Tadjul ‘Arifin, Miftahus Shuduur, 1970)
Zikir dan Kinerja
Zikir di tingkat Singularitas akan meningkatkan kualitas perilaku, di antaranya: produktivitas, efektivitas, dan efisiensi. Perilaku-perilaku tersebut merupakan prinsip-prinsip utama dalam konteks manajemen. Zikir menginspirasi orang untuk menghargai waktu dan melakukan apapun sebaik-baiknya, sehingga ia akan selalu menerapkan prinsip efisiensi dan efektivitas.
“Dan kami tinggikan zikirmu. Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (Al Insyirah)
Hendaklah setiap diri memperhatikan apa yang dilakukannya untuk hari esok, dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Al Hasyr:18)
Takwa artinya beware dalam konteks implementasi, dengan memperhatikan konsistensi dan quality assurance, sehingga layak untuk diaudit oleh Allah.
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan”. (Al Qashash:77)
“Lebih baik dari hari kemarin adalah untung J, sama dengan hari kemarin adalah merugi, dan lebih buruk dari hari kemarin adalah celaka L...”